Cloud Computing
Istilah Cloud Computing
akhir-akhir ini semakin sering terdengar. Namun sebenarnya imple-mentasi
konsepnya sendiri sudah ada sejak puluhan tahun lalu, sebelum internet
berkembang seperti sekarang. Saat ini memang cloud computing identik dengan
internet. Namun bila dilihat dari konsepnya, cloud juga ada pada jaringan yang
lebih kecil, seperti LAN atau MAN. Kehadiran cloud computing pada awalnya untuk
kalangan industri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hartig (2008), Cloud computing is a new model of computing that is widely
being utilized in today's industry and society. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi
penerapan teknologi ini, antaralain:
(1) Ini adalah sebuah model layanan
berbasis Internet untuk menampung sumberdaya sebuah perusahaan. Artinya sebuah
perusahaan tak perlu lagi memiliki atau mendirikan infrastruktur lantaran sudah
ada perusahaan lain yang menyediakan “penampung” di cloud alias Internet.
(2) Sebuah perusahaan tak perlu lagi
mengalokasikan anggaran untuk pembelian dan perawatan infrastruktur dan
software.
(3) Perusahaan pun tak perlu memiliki
pengetahuan serta merekrut tenaga pakar dan tenaga pengontrol infrastruktur di
“cloud” yang mendukung mereka.
Karakteristik Coud Computing
National Institute of
Standards and Technology (NIST) mengidentifikasi lima karakteristik
penting dari cloud computing (Mell & Grance, 2009) sebagai berikut:
1. On-demand self-service. Pengguna
dapat memesan dan mengelola layanan tanpa interaksi manusia dengan penyedia
layanan, misalnya dengan menggunakan, sebuah portal web dan manajemen
interface. Pengadaan dan perlengkapan layanan serta sumberdaya yang terkait
terjadi secara otomatis pada penyedia.
2. Broad network access. Kemampuan
yang tersedia melalui jaringan dan diakses melalui mekanisme standar, yang
mengenalkan penggunaan berbagai platform (misalnya, telepon selular, laptop,
dan PDA).
3. Resource pooling. Penyatuan
sumberdaya komputasi yang dimiliki penyedia untuk melayani beberapa konsumen
menggunakan model multi-penyewa, dengan sumberdaya fisik dan virtual yang
berbeda, ditetapkan secara dinamis dan ditugaskan sesuai dengan permintaan
konsumen. Ada rasa kemandirian lokasi bahwa pelanggan umumnya tidak memiliki
kontrol atau pengetahuan atas keberadaan lokasi sumberdaya yang disediakan,
tetapi ada kemungkinan dapat menentukan lokasi di tingkat yang lebih tinggi
(misalnya, negara, negara bagian, atau datacenter). Contoh sumberdaya termasuk
penyimpanan, pemrosesan, memori, bandwidth jaringan, dan mesin virtual.
4. Rapid elasticity. Kemampuan dapat
dengan cepat dan elastis ditetapkan.
5. Measured Service. Sistem cloud
computing secara otomatis mengawasi dan mengopti-malkan penggunaan sumberdaya
dengan memanfaatkan kemampuan pengukuran (measuring) pada beberapa tingkat yang
sesuai dengan jenis layanan (misalnya, penyimpanan, pemrosesan, bandwidth, dan
account pengguna aktif). Penggunaan sumberdaya dapat dipantau, dikendalikan,
dan dilaporkan sebagai upaya memberikan transparansi bagi penyedia dan konsumen
dari layanan yang digunakan.
Pemanfaatan Cloud Computing Dalam
Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan
Visi pembangunan pertanian berkelanjutan adalah terwujudnya kondisi ideal skenario konstitusi Indonesia yang disebut adil dan makmur, dan mencegah terjadinya lingkaran malapetaka kemiskinan. Visi ini diterima secara universal sehingga pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) menjadi prinsip dasar pembangunan pertanian secara global, termasuk di Indonesia. Oleh karena itulah pengembangan sistem pertanian menuju usahatani berkelanjutan merupakan salah satu misi utama pembangunan pertanian di Indonesia.
Visi pembangunan pertanian berkelanjutan adalah terwujudnya kondisi ideal skenario konstitusi Indonesia yang disebut adil dan makmur, dan mencegah terjadinya lingkaran malapetaka kemiskinan. Visi ini diterima secara universal sehingga pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) menjadi prinsip dasar pembangunan pertanian secara global, termasuk di Indonesia. Oleh karena itulah pengembangan sistem pertanian menuju usahatani berkelanjutan merupakan salah satu misi utama pembangunan pertanian di Indonesia.
Pembangunan pertanian
berkelanjutan di implementasikan ke dalam rencana pembangunan jangka panjang
Kementerian Pertanian seperti yang tertuang dalam visi jangka panjangnya
sebagai berikut: “Terwujudnya sistem pertanian industrial berdaya saing,
berkeadilan dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan
masyarakat pertanian”.
Pertanian industrial
adalah sosok pertanian yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(1) pengetahuan merupakan landasan
utama dalam pengambilan keputusan, memperkuat intuisi, kebiasaan, atau tradisi.
(2) kemajuan teknologi merupakan
instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya.
(3) mekanisme pasar merupakan media
utama dalam transaksi barang dan jasa.
(4) efisiensi dan produktivitas sebagai
dasar utama dalam alokasi sumberdaya.
(5) mutu dan keunggulan merupakan
orientasi, wacana, sekaligus tujuan.
(6) profesionalisme merupakan
karakter yang menonjol.
(7)perekayasaan merupakan inti nilai
tambah sehingga setiap produk yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan.
Sektor pertanian
berperan sangat strategis dalam pengentasan penduduk miskin di wilayah pedesaan
karena sebagian besar penduduk miskin di wilayah pedesaan bergantung pada
sektor tersebut. Dengan kata lain, sektor pertanian merupakan sektor yang
sangat strategis untuk dijadikan sebagai instrumen dalam pengentasan penduduk
miskin. Kemajuan sektor pertanian akan memberikan kontribusi besar dalam
penurunan jumlah penduduk miskin di wilayah pedesaan. Demikian pula, basis bagi
partisipasi petani untuk melakukan perencanaan dan pengawasan pembangunan
pertanian harus dibangun sehingga petani mampu mengaktualisasikan kegiatan
usahataninya secara optimal untuk menunjang pertumbuhan pendapatannya.
Hasil-hasil pembangunan harus terdistribusi makin merata antar sektor, antar
subsektor dalam sektor pertanian dan antar lapisan masyarakat agar tidak ada
lagi lapisan masyarakat yang tertinggal dan pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan meningkat.
Dalam “World Summit on
the Information Society five years on: Information and communications
Technology for Inclusive Development” (ESCAP 2008) dinyatakan bahwa wilayah
Asia-Pacific menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi target tujuan
pembangunan pada millennium pertama (antara 1990 dan 2015), sejumlah penduduk
menderita karena kelaparan. Keberlanjutan pertanian dan keamanan pangan
terancam oleh rendahnya hasil pertanian, miskinnya pengelolaan sumber daya
tanah dan air, serta pendidikan tenaga kerja bidang pertanian yang berada di
bawah standar. Kondisi penduduk tersebut juga sangat rentan terhadap bencana,
seperti kekeringan, banjir, gempa bumi dan tanah longsor. Teknologi informasi
dan komunikasi dapat diterapkan dalam mendukung manajemen sumber daya,
pemasaran, penyuluhan dan mengurangi resiko kehancuran untuk membantu
meningkatkan produksi pangan dan mengurangi ancaman terhadap ketahanan pangan.
Hasil penelitian Wahid
(2006) terhadap pemanfaatan kafe internet, faktanya diketahui bahwa penggunaan
internet (aplikasi teknologi informasi) cenderung dimanfaatkan khususnya untuk
meningkatkan kapabilitas pendidikan secara personal dan pengalaman internet,
sekolah-sekolah di
Indonesia dan negara berkembang lainnya dapat memainkan peranan yang penting dalam mengembangkan sikap dan keahliannya untuk meningkatkan manfaat sosial dari penggunaan web. Hal ini berarti juga mendidik masyarakat dalam bagaimana caranya menggunakan web tersebut untuk mencari informasi yang tepat dan relevan dalam bahasa yang dapat dipahami. Selanjutnya, Purbo (2002) memiliki argumentasi bahwa pergerakan golongan akar rumput (grassroots movements) mendorong pengembangan akses dan pemanfaatan internet di Indonesia.
Indonesia dan negara berkembang lainnya dapat memainkan peranan yang penting dalam mengembangkan sikap dan keahliannya untuk meningkatkan manfaat sosial dari penggunaan web. Hal ini berarti juga mendidik masyarakat dalam bagaimana caranya menggunakan web tersebut untuk mencari informasi yang tepat dan relevan dalam bahasa yang dapat dipahami. Selanjutnya, Purbo (2002) memiliki argumentasi bahwa pergerakan golongan akar rumput (grassroots movements) mendorong pengembangan akses dan pemanfaatan internet di Indonesia.
Meskipun masih terdapat
beberapa kendala sehingga pemanfaatan TIK menjadi sangat kompleks dan sulit
untuk diadopsi, TIK sebenarnya dapat menyediakan kesempatan yang lebih besar
untuk mencapai suatu tingkatan tertentu yang lebih baik bagi petani. Hal ini
ditunjukkan ketika beberapa lembaga penelitian dan pengembangan menyampaikan
studi kasus yang mendeskripsikan bagaimana TIK telah dimanfaatkan oleh petani
dan stakeholders usahawan pelaku bidang pertanian sehingga memperoleh peluang
yang lebih besar untuk memajukan kegiatan usaha taninya. Keberhasilan
pemanfaatan TIK oleh petani di Indonesia dalam memajukan usahataninya
ditunjukkan oleh beberapa kelompok tani yang telah memanfaatkan internet untuk
akses informasi dan promosi hasil produksinya.
Manfaat yang dapat
diperoleh melalui kegiatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi
(Mulyandari 2005), khususnya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan
di antaranya adalah:
1. Mendorong terbentuknya jaringan
informasi pertanian di tingkat lokal dan nasional.
2. Membuka akses petani terhadap informasi pertanian untuk:
2. Membuka akses petani terhadap informasi pertanian untuk:
1) Meningkatkan peluang potensi
peningkatan pendapatan dan cara pencapaiannya.
2) Meningkatkan kemam-puan petani
dalam meningkatkan posisi tawarnya, serta
3) Meningkatkan kemam-puan petani
dalam melakukan diversifikasi usahatani dan merelasikan komoditas yang
diusahakannya dengan input yang tersedia, jumlah produksi yang diperlukan dan kemampuan
pasar menyerap output.
3. Mendorong terlaksananya kegiatan
pengembangan, pengelolaan dan peman-faatan informasi pertanian secara langsung
maupun tidak langsung untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.
4. Memfasilitasi dokumentasi
informasi per-tanian di tingkat lokal (indigeneous know-ledge) yang dapat
diakses secara lebih luas untuk mendukung pengembangan pertanian lahan
marjinal.
Hambatan Yang Dihadapi
Hambatan Yang Dihadapi
Meskipun disadari TIK
memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung pembangun-an pertanian
berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di Indonesia
masih belum diperhitungkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan. Fakta
yang agak mengejutkan adalah bahwa aplikasi TIK memiliki kontribusi yang tidak
terukur secara ekonomi bagi masing-masing GDPs. Dalam waktu yang sama,
pemanfaatan TIK dalam pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan proses
pendidikan dan peningkatan kapasitas karena masih terdapat kesenjangan secara
teknis maupun keterampilan dalam bisnis ecara elektronik (e-business).
Berdasarkan Survei yang
dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS)
hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani
hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan
(training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang
digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Untuk responden dari
negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan
“kesenjangan infrastruktur teknologi (Taragola et al. 2009).
Kelebihan
Dengan adanya komputasi
modern ini, kita dapat menyiman data menjadi satu dengan mudan. Oleh karena itu
kita bertransaksi lebih fleksibel dan menampung banyak data
Kekurangan
Kekuranganya yaitu keterbatasan SDM
kemampuan untuk pengoprasian teknologi serta pelatihan dan harga. Serta
software
Tidak ada komentar:
Posting Komentar